Bismillah
UKUR DULU,,,,, BARU PUTUSKAN ...... !!!
Oleh : Indah Fauziatin
Ada saja komentar-komentar yang
dijadikan alasan untuk orang berbuat seenaknya, dengan tidak mengikuti dan
mematuhi peraturan yang telah disepakati. Seperti seorang mahasiswa yang wajib
hadir dalam perkuliahan, lalu bolos dari kelasnya, kemudian mengungkapkan
alasan bolosnya dikarenakan malas, atau bosan, atau cape, atau alasan-alasan
lain yang dapat dikatakan tidak bertanggungjawab.
Banyak macam perbuatan dan
pekerjaan yang dapat dilakukan, banyak manfaat dan hasil yang dapat diperoleh.
Namun banyak pula resiko yang mungkin akan dihadapi. Sebagian orang banyak
tidak berpikir apa resiko yang akan dihadapi dari perbuatan yang sedang, dan
akan dilakukan. Karena biasanya mereka melakukan sesuatu sesuai keinginan pada
kondisi hati (mood) saat itu. Untuk resiko menjadi urusan yang kesekian.
Orangtua mengharapkan anak-anaknya
akan sukses di masa depannya. Mulai menanam dengan kasih sayang, lalu menabur
dengan pendidikan, kemudian akan memetik hasil dari benih yang telah dipupuk.
Tugas menanam bisa jadi tidak terlalu sulit bagi orangtua untuk dilakukan
karena dasar ikatan darah yang akhirnya kasih sayang akan terus terasa antar
orangtua dan anak. Yang menjadi sulit adalah pada saat menabur. Menabur dengan
pendidkan adalah masa yang cukup panjang dan tidak akan pernah berhenti hingga
ajal menjemput.
Seorang mahasiswa tidak mengikuti
perkuliahan beberapa hari. Setelah ditanya alasannya, ternyata dia sedang tidak
semangat kuliah.
Seorang ibu asyik dengan
smartphonenya, hingga lalai dari tugasnya untuk mengurus rumah
tangga. Setelah
ditanya alasannya,
ternyata dia bosan dengan rutinitas yang dilakukan.
Contoh di atas banyak kiat jumpai.
Mau ada alasan atau tanpa alasan itu bisa saja terjadi pada diri kita dan
keluarga kita.
Allah Subhaanahu Wata’ala
menciptakan manusia yang terdapat
padanya hawa nafsu. Hawa nafsu ini yang membuat manusia akan mengalami naik
turunnya sebuah kekuatan. Kekuatan itu bisa berupa keimanan/keyakinan.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda, bahwasanya
“اَلْإِيْمَانُ
يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ” iman itu bisa naik dan bisa turun.
Atas
dasar dalil di atas, tidaklah seseorang selalu menyandarkan kelemahan (tidak
semangat, bosan, dan lain-lain) itu sebagai alasan untuk menghindar dari melakukan hal-hal
yang baik.
Namun
kelemahan itu harus dijadikan alarm (pengingat) kita untuk meningkatkan
kekuatan yang kita punya.
Dengan
cara : “Ukur Dulu,,, Baru Putuskan...!!!”
1.
Sebagai
mahasiswa = posisi seorang anak yang orangtuanya menaruh harapan besar untuk
sukses di masa depannya.
Maka :
·
Mengukur diri
dengan berada di posisi orangtua.
·
Harapan
orangtua menjadi motivasi dan kekuatan untuk dapat memutuskan apakah harus
mengikuti kelemahan (tidak semangat) itu, atau mengikuti arah kekuatan untuk
mewujudkan sebuah harapan.
·
Memutuskan :
Ø Jika tidak semangat, maka orangtua akan sedih dan kecewa.
Ø Jika terus semangat, maka orangtua akan senang dan anak
(mahasiswa) akan mendapat hasil yang baik.
2.
Sebagai ibu (oragtua)
= posisi seorang ibu yang memiliki anak dan keluarga. Pastinya memiliki banyak
harapan dan cita-cita yang akan diraih.
Maka :
·
Mengukur diri
dengan berada di posisi anak.
·
Harapan dan
cita-cita ibu sebagai orangtua menjadi motivasi dan kekuatan untuk dapat
memutuskan apakah harus mengikuti kelemahan (bosan) itu, atau mengikuti arah
kekuatan untuk mewujudkan sebuah harapan dan cita-cita.
·
Memutuskan :
Ø Jika mengikuti bosan, maka orangtua akan menjadi orang
yang rugi. Dan akan dilihat oleh anak dan keluarga, bahkan hal tersebut bisa
dicontoh dan ditiru.
Ø Jika meninggalkan bosan, dan terus fokus mengerjakan apa
yang harus dikerjakan, maka orangtua akan beruntung. Anak dan keluarga akan senang.
Bahkan mereka akan bangga memiliki orangtua yang selalu mengisi waktunya untuk
hal-hal yang tidak membosankan. Terutama tidak bosan untuk belajar dan
mengajar. Dengan begitu, hidup akan bermakna dan akan memperoleh banyak ilmu.
Demikian, jika kita dapat mengukur diri dengan berada
di posisi orang lain, maka kita dapat memutuskan apa yang terbaik untuk kita
dan orang di sekitar kita. Siapapun
peran kita, apapun pekerjaan yang harus dilakukan, maka berperanlah dengan
profesional, dan lakukanlah pekerjaan yang sesuai dengan norma-norma yang
berlaku.
Semoga
bermanfaat.
JKT.19/4/16.23.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar