Rabu, 09 Maret 2016

SIAPA YANG SALAH.......?

Hasil gambar untuk GAMBAR ORANG BERSALAH

Salah siapa ini...???
Begitulah salah seorang ibu mengatakan jika melihat sesuatu yang tidak pantas menurutnya.
Pertengkaran anak, percekcokan suami istri, perdebatan pendapat antar keluarga dan lingkungan,
dan lain sebagainya.
Semua bersumber dari perkataan dan perbuatan seseorang.
Yang bisa jadi sebuah bencana ataupun manfaat.

Agama mengajarkan mannusia agar berkata yang baik, dan berbuat yang baik pula.
Karena dari situlah, orang lain akan memberikan nilai dan ekspresi baik atau buruk dari sebuah perkataan dan perbuatan.
Orang yang baik akan dicintai dan disayangi orang lain.
Dan orang yang jahat atau buruk akan dibenci dan dijauhi banyak orang, kecuali orang-orang yang semisalnya.

Perkataan dan perbuatan baik seseorang merupakan hasil dari beberapa faktor.
Diantaranya adalah kebiasaan dan pendidikan.
Kebiasaan merupakan awal pembentukan karakter.
Adapun pendidikan merupakan asupan yang akan mendukung karakter tersebur.
Faktor pendidikan adalah masukan yang sangat besa perannya dalam pembentukan karakter seseorang.
Pendidikan yang paling utama adalah pendidikan agama. Kemudian diikuti dengan jenjang-jenjang pendidikan berikutnya.



Hasil gambar untuk GAMBAR ORANG BERSALAH

Sabtu, 05 Maret 2016

PERLUKAH MENUNTUT….?

Hasil gambar untuk gambar orang menuntut hak


Manusia adalah makhluk social.
Karena sifat social tersebut, manusia saling membutuhkan.
Sebagaimana suami istri yang terjalin dalam sebuah rumah tangga. Tugas masing-masing personal terbeban pada pundaknya.
Otomatis, hak dan kewajiban juga melekat pada diri mereka.
Sudah menjadi hal yang umum, bahwa tugas suami adalah sebagai pemimpin rumah tangga. Adapun istri adalah pendamping atau manajer di rumah tangga.

Pemimpin rumah tangga adalah nahkoda bahtera kehidupan rumahtangga. Baik buruk perjalanan, tergantung keputusan nahkoda. Akan dibawa kemana rumahtangga tersebut an melaju.
Manajer rumahtangga adalah pendamping yang dapat membantu nahkoda dalam mengarungi bahtera kehidupan rumahtangga. Diantaranya memberi semangat, menyiapkan perbekalan, mengurus logistic, dan lain sebagainya.
Demikianlah, semua akan berjalan dengan baik jika ada kerjasama yang baik, memperhatikan rambu-rambu yang ada dalam perjalanan tersebut, dan berpegang dengan pedoman yang tepat untuk menuju tujuan yang diharapkan.

Oooh….. indahnya…… jika semua berjalan sesuai harapan.

Saat itu tahun 2010. Seorang suami memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah dijalani selama puluhan tahun sebagai karyawan di perusahaan swasta. Si istri mendukung keputusan tersebut, karena dirasa benar bahwa suaminya tidak dapat berkembang jika masih di perusahaan tersebut. Mereka berencana berwirausaha atau mencari pekerjaan yang lain.
Kesempatan yang datang adalah suami bekerja di tempat yang baru. Dan begitu seterusnya sekian tahun berpindah-pindah tempat bekerja. Sampai akhirnya suami tidak memiliki pekerjaan.

Konflik mulai terjadi. Tuntutan mulai bermunculan. Badaipun mulai menghadang. Ujian kehidupan menjadi masalah dan hal yang sangat rumit untuk diselesaikan.
Jiwa terguncang. Mentalpun menjadi mental. Percekcokan mulai menerjang. Merasa diri masing-masing paling benar. Keharmonisan mulai terancam.  Hingga komunikasipun menjadi hambatan. Hubungan menjadi renggang. Tiada lagi impian yang dapat diwujudkan.
Demikian kondisi insan yang sedang frustasi, yang belum dapat menerima kenyataan bahwa impian belum menjadi kenyataan, dan apa yang menjadi harapan belum dapat diwujudkan.
Pertanyaannya kemudian,,,,
Bagaimana solusi menghadapi masalah dengan kondisi seperti itu….

! Menyadari dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan adalah hal yang wajib dilakukan setiap pasangan. Dengan begitu akan melahirkan sifat saling menghargai.
! Kemudian, mengoreksi diri masing-masing pasangan untuk apa mereka bersatu. Kembalikan lagi niat dan tujuan awal dari sebuah pernikahan. Dan dilihat kembali pedoman atau panduan untuk melakukan bahtera kehidupan rumah tangga. Sudahkah sesuai dengan petunjuk atau belum.
! Selamatkan hati dari sifat-sifat yang merugikan diri sendiri. Dia antaranya adalah: prasangka buruk, marah, dan bosan.
! Menahan diri tidak terbawa dengan keadaan. Justru keadaanlah yang harus dikondisikan.
! Mengetahui benar, bahwa setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan atas dirinya sendiri. Kesalahan orang lain tidak dapat dijadikan bahan alasan untuk sebuah pertanggungjawaban. Semua hal adalah tanggungjawab jiwa itu sendiri.


Pernikahan adalah salah satu perintah Allah Subhanahuwataa’la. Contoh nyata pernikahan yang harmonis adalah pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.  Pondasi dasar sebuah pernikahan adalah dengan niat yang lurus karena mencari ridha Allah. Allah menciptakan manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan pada diri mereka masing-masing. Ketaqwaan mejadi impian dan harapan yang harus diraih setiap manusia, karena dengan ketaqwaan itulah manusia mendapatkan derajat yang paling tinggi di mata Allah.

Mendapatkan ketaqwaan tidaklah mudah. Harus melalui ujian-ujian fisik dan mental yang membutuhkan pengorbanan baik materi ataupun non materi. Meraih taqwa adalah sebuah perjuangan. Perbekalan sudah Allah sediakan. Tinggal manusia yang mengambil/memilih dan menyediakan mana yang harus dibawa dalam melewati perjuangan tersebut.
Allah menjanjikan hadiah yang sangat besar bagi orang yang berhasil mencapai derajat taqwa. Hadiah tersebut adalah kemudahan hidup di dunia dan akhirat.

Fitrah manusia adalah ingin dilayani. Hak terpenuhi. Cita-cita dapat diraih.
Ketergangtungan manusia dengan manusia yang lainnya adalah sesuatu yang lumrah dan lazim.  Terkadang ada tuntutan kesempurnaan dari manusia lainnya. Mengharap pujian dan balasan dari oranglain, dan sejenisnya.
Disinilah, letak kekeliruan yang dilakukan manusia. Sesungguhnya kesempurnaan, menggantungkan harapan, dan mendapat balasan terbaik itu hanya milik Allah semata. Tiada yang lain….!!!!

Oleh karena itu,
Perlukah kita menuntut orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan..?
Perlukah kita menuntut balasan kebaikan dari oranglain…?
Perlukah kita menuntut jawaban siapa yang salah dan benar….?
Perlukah kita menuntut penilaian yang bagus dari orang lain…?
Perlukah kita menuntut hak-hak yang harus kita diterima …..?

Jawabannya adalah…:
Sabar (menahan diri)
Berdo’a (mengajukan permintaan)
Yaqin (percaya)

Tawakkal (berserah diri)