Manusia adalah makhluk social.
Karena sifat social tersebut, manusia
saling membutuhkan.
Sebagaimana suami istri yang terjalin
dalam sebuah rumah tangga. Tugas masing-masing personal terbeban pada
pundaknya.
Otomatis, hak dan kewajiban juga
melekat pada diri mereka.
Sudah menjadi hal yang umum, bahwa
tugas suami adalah sebagai pemimpin rumah tangga. Adapun istri adalah
pendamping atau manajer di rumah tangga.
Pemimpin rumah tangga adalah nahkoda
bahtera kehidupan rumahtangga. Baik buruk perjalanan, tergantung keputusan
nahkoda. Akan dibawa kemana rumahtangga tersebut an melaju.
Manajer rumahtangga adalah pendamping
yang dapat membantu nahkoda dalam mengarungi bahtera kehidupan rumahtangga.
Diantaranya memberi semangat, menyiapkan perbekalan, mengurus logistic, dan
lain sebagainya.
Demikianlah, semua akan berjalan
dengan baik jika ada kerjasama yang baik, memperhatikan rambu-rambu yang ada
dalam perjalanan tersebut, dan berpegang dengan pedoman yang tepat untuk menuju
tujuan yang diharapkan.
Oooh….. indahnya…… jika semua
berjalan sesuai harapan.
Saat itu tahun 2010. Seorang suami
memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang sudah dijalani selama puluhan
tahun sebagai karyawan di perusahaan swasta. Si istri mendukung keputusan
tersebut, karena dirasa benar bahwa suaminya tidak dapat berkembang jika masih
di perusahaan tersebut. Mereka berencana berwirausaha atau mencari pekerjaan
yang lain.
Kesempatan yang datang adalah suami
bekerja di tempat yang baru. Dan begitu seterusnya sekian tahun
berpindah-pindah tempat bekerja. Sampai akhirnya suami tidak memiliki
pekerjaan.
Konflik mulai terjadi. Tuntutan mulai
bermunculan. Badaipun mulai menghadang. Ujian kehidupan menjadi masalah dan hal
yang sangat rumit untuk diselesaikan.
Jiwa terguncang. Mentalpun menjadi mental.
Percekcokan mulai menerjang. Merasa diri masing-masing paling benar.
Keharmonisan mulai terancam. Hingga
komunikasipun menjadi hambatan. Hubungan menjadi renggang. Tiada lagi impian
yang dapat diwujudkan.
Demikian kondisi insan yang sedang
frustasi, yang belum dapat menerima kenyataan bahwa impian belum menjadi
kenyataan, dan apa yang menjadi harapan belum dapat diwujudkan.
Pertanyaannya kemudian,,,,
Bagaimana solusi menghadapi masalah
dengan kondisi seperti itu….
! Menyadari dan
memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan adalah hal yang wajib
dilakukan setiap pasangan. Dengan begitu akan melahirkan sifat saling
menghargai.
! Kemudian,
mengoreksi diri masing-masing pasangan untuk apa mereka bersatu. Kembalikan
lagi niat dan tujuan awal dari sebuah pernikahan. Dan dilihat kembali pedoman
atau panduan untuk melakukan bahtera kehidupan rumah tangga. Sudahkah sesuai
dengan petunjuk atau belum.
! Selamatkan hati
dari sifat-sifat yang merugikan diri sendiri. Dia antaranya adalah: prasangka
buruk, marah, dan bosan.
! Menahan diri
tidak terbawa dengan keadaan. Justru keadaanlah yang harus dikondisikan.
! Mengetahui
benar, bahwa setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan atas dirinya sendiri. Kesalahan
orang lain tidak dapat dijadikan bahan alasan untuk sebuah pertanggungjawaban.
Semua hal adalah tanggungjawab jiwa itu sendiri.
Pernikahan adalah salah satu perintah
Allah Subhanahuwataa’la. Contoh nyata pernikahan yang harmonis adalah
pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pondasi dasar sebuah pernikahan adalah dengan
niat yang lurus karena mencari ridha Allah. Allah menciptakan manusia yang
memiliki kelebihan dan kekurangan pada diri mereka masing-masing. Ketaqwaan
mejadi impian dan harapan yang harus diraih setiap manusia, karena dengan
ketaqwaan itulah manusia mendapatkan derajat yang paling tinggi di mata Allah.
Mendapatkan ketaqwaan tidaklah mudah.
Harus melalui ujian-ujian fisik dan mental yang membutuhkan pengorbanan baik
materi ataupun non materi. Meraih taqwa adalah sebuah perjuangan. Perbekalan
sudah Allah sediakan. Tinggal manusia yang mengambil/memilih dan menyediakan
mana yang harus dibawa dalam melewati perjuangan tersebut.
Allah menjanjikan hadiah yang sangat
besar bagi orang yang berhasil mencapai derajat taqwa. Hadiah tersebut adalah
kemudahan hidup di dunia dan akhirat.
Fitrah manusia adalah ingin dilayani.
Hak terpenuhi. Cita-cita dapat diraih.
Ketergangtungan manusia dengan
manusia yang lainnya adalah sesuatu yang lumrah dan lazim. Terkadang ada tuntutan kesempurnaan dari
manusia lainnya. Mengharap pujian dan balasan dari oranglain, dan sejenisnya.
Disinilah, letak kekeliruan yang
dilakukan manusia. Sesungguhnya kesempurnaan, menggantungkan harapan, dan
mendapat balasan terbaik itu hanya milik Allah semata. Tiada yang lain….!!!!
Oleh karena itu,
Perlukah kita menuntut orang lain
untuk menjadi apa yang kita inginkan..?
Perlukah kita menuntut balasan
kebaikan dari oranglain…?
Perlukah kita menuntut jawaban siapa
yang salah dan benar….?
Perlukah kita menuntut penilaian yang
bagus dari orang lain…?
Perlukah kita menuntut hak-hak yang
harus kita diterima …..?
Jawabannya adalah…:
Sabar (menahan diri)
Berdo’a (mengajukan permintaan)
Yaqin (percaya)
Tawakkal (berserah diri)