Kamis, 19 Mei 2016

UKUR DULU,,,,,BARU PUTUSKAN.....!!!

Bismillah

Hasil gambar untuk GAMBAR PENGUKURAN

UKUR DULU,,,,, BARU PUTUSKAN ...... !!!
Oleh : Indah Fauziatin

Ada saja komentar-komentar yang dijadikan alasan untuk orang berbuat seenaknya, dengan tidak mengikuti dan mematuhi peraturan yang telah disepakati. Seperti seorang mahasiswa yang wajib hadir dalam perkuliahan, lalu bolos dari kelasnya, kemudian mengungkapkan alasan bolosnya dikarenakan malas, atau bosan, atau cape, atau alasan-alasan lain yang dapat dikatakan tidak bertanggungjawab.

Banyak macam perbuatan dan pekerjaan yang dapat dilakukan, banyak manfaat dan hasil yang dapat diperoleh. Namun banyak pula resiko yang mungkin akan dihadapi. Sebagian orang banyak tidak berpikir apa resiko yang akan dihadapi dari perbuatan yang sedang, dan akan dilakukan. Karena biasanya mereka melakukan sesuatu sesuai keinginan pada kondisi hati (mood) saat itu. Untuk resiko menjadi urusan yang kesekian.

Orangtua mengharapkan anak-anaknya akan sukses di masa depannya. Mulai menanam dengan kasih sayang, lalu menabur dengan pendidikan, kemudian akan memetik hasil dari benih yang telah dipupuk. Tugas menanam bisa jadi tidak terlalu sulit bagi orangtua untuk dilakukan karena dasar ikatan darah yang akhirnya kasih sayang akan terus terasa antar orangtua dan anak. Yang menjadi sulit adalah pada saat menabur. Menabur dengan pendidkan adalah masa yang cukup panjang dan tidak akan pernah berhenti hingga ajal menjemput.

Seorang mahasiswa tidak mengikuti perkuliahan beberapa hari. Setelah ditanya alasannya, ternyata dia sedang tidak semangat kuliah.
Seorang ibu asyik dengan smartphonenya, hingga lalai dari tugasnya untuk mengurus rumah tangga. Setelah ditanya alasannya, ternyata dia bosan dengan rutinitas yang dilakukan.

Contoh di atas banyak kiat jumpai. Mau ada alasan atau tanpa alasan itu bisa saja terjadi pada diri kita dan keluarga kita.

Allah Subhaanahu Wata’ala menciptakan manusia yang terdapat padanya hawa nafsu. Hawa nafsu ini yang membuat manusia akan mengalami naik turunnya sebuah kekuatan. Kekuatan itu bisa berupa keimanan/keyakinan.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, bahwasanya
 “اَلْإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ” iman itu bisa naik dan bisa turun.

Atas dasar dalil di atas, tidaklah seseorang selalu menyandarkan kelemahan (tidak semangat, bosan, dan lain-lain) itu sebagai  alasan untuk menghindar dari melakukan hal-hal yang baik.
Namun kelemahan itu harus dijadikan alarm (pengingat) kita untuk meningkatkan kekuatan yang kita punya.
Dengan cara : “Ukur Dulu,,, Baru Putuskan...!!!”

1.    Sebagai mahasiswa = posisi seorang anak yang orangtuanya menaruh harapan besar untuk sukses di masa depannya.
Maka :
·         Mengukur diri dengan berada di posisi orangtua.
·         Harapan orangtua menjadi motivasi dan kekuatan untuk dapat memutuskan apakah harus mengikuti kelemahan (tidak semangat) itu, atau mengikuti arah kekuatan untuk mewujudkan sebuah harapan.
·         Memutuskan :
Ø  Jika tidak semangat, maka orangtua akan sedih dan kecewa.
Ø  Jika terus semangat, maka orangtua akan senang dan anak (mahasiswa) akan mendapat hasil yang baik.
2.    Sebagai ibu (oragtua) = posisi seorang ibu yang memiliki anak dan keluarga. Pastinya memiliki banyak harapan dan cita-cita yang akan diraih.
Maka :
·         Mengukur diri dengan berada di posisi anak.
·         Harapan dan cita-cita ibu sebagai orangtua menjadi motivasi dan kekuatan untuk dapat memutuskan apakah harus mengikuti kelemahan (bosan) itu, atau mengikuti arah kekuatan untuk mewujudkan sebuah harapan dan cita-cita.
·         Memutuskan :
Ø  Jika mengikuti bosan, maka orangtua akan menjadi orang yang rugi. Dan akan dilihat oleh anak dan keluarga, bahkan hal tersebut bisa dicontoh dan ditiru.
Ø  Jika meninggalkan bosan, dan terus fokus mengerjakan apa yang harus dikerjakan, maka orangtua akan beruntung. Anak dan keluarga akan senang. Bahkan mereka akan bangga memiliki orangtua yang selalu mengisi waktunya untuk hal-hal yang tidak membosankan. Terutama tidak bosan untuk belajar dan mengajar. Dengan begitu, hidup akan bermakna dan akan memperoleh banyak ilmu.

Demikian,  jika kita dapat mengukur diri dengan berada di posisi orang lain, maka kita dapat memutuskan apa yang terbaik untuk kita dan orang di sekitar kita.  Siapapun peran kita, apapun pekerjaan yang harus dilakukan, maka berperanlah dengan profesional, dan lakukanlah pekerjaan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Semoga bermanfaat.


JKT.19/4/16.23.30